Jumat, 09 Februari 2018

Demagogi Jurnalis Asing

Handi Salam
Oleh: Handi Salam
Redaktur di Radar Sukabumi



BEBERAPA hari kebelakang saya menemukan artikel-artikel yang bagus untuk dibaca, hingga saat saya membacanya jadi putus asa mengenai keterampilan saya menulis yang buruk. Namun, ketika membaca artikel yang buruk membuat saya marah, sebab ia menular. Sebagai penulis yang tersendat-sendat, tingkat produktivitas yang menyedihkan saya selalu bisa menemukan kambing hitam dalam diri saya untuk disalahkan.

  Seperti hari minggu kemarin saya membaca sebuah artikel lumayan bagus dari laman Stuff.co.nz yang menceritakan tentang kisah Riadi Subagya Warga Negara Indonesia (WNI) sukses di Wellington Selandia Baru dengan menciptakan bisnis angkutan. Tak ada yang menarik dalam tulisan itu, cuma mengisahkan sosok WNI yang memiliki reputasi baik di negara asing.

  Tapi, yang membuat saya teringat terus adalah bagaimana Riadi membuat masyarakat Selandia Baru senang dan bahagia saat naik mobilnya. Bahkan tak hanya masyarakat biasa hingga pejabat negarapun pernah merasakan kenyamanan jasanya. Padahal hanya menambahkan sedikit inovasi dalam mobilnya dengan menambahkan alat karoke bekas. Lagu Tom Jones yang berjudul 'Delilah'  jadi senjata utama kendaraanya dan saya menggemari lagu itu.

  Tulisan baik itu jadi contoh, dan bahkan disebarkan oleh media-media Nasional Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Kesuksesan WNI ini tercatat dalam sejarah bahwa dirinya bisa dan mampu bersaing meski di negara Asing.

 Ya artikel itu tidak membawa penghasutan terhadap orang banyak, hanya memberitahu keberhasilan WNI. Beda dengan Artikel yang di yang dipublikasikan di Asia Times edisi 23 Januari 2018 dengan judul, 'Widodo’s smoke and mirrors hide hard truths“. karya jurnalis Asing John Mc Beth berkebangsaan Negara Selandia Baru.
  Artikel yang di klaim mejabarkan dan menyampaikan secara gamblang bahwa Pemerintahan Indonesia yang sedang dipimpin oleh Joko Widodo sedang memainkan permainan “Asap dan Kaca”. Dalam tulisannya Jhon menuding Jokowi diselimuti media-media yang pro Jokowi hingga keburukan dan kekacauan tidak timbul ke permukaan.
  Bahkan Wartawan kelahiran 1944 itu, menyebut Jokowi sudah menjadi seorang empu (master) Smoke and mirrors. Maksud dari tulisan ini adalah sebuah idiom yang diadopsi dari para pemain sulap yang dalam aksi panggungnya menggunakan semburan asap dan cermin untuk menyembunyikan sesuatu dan menciptakan efek  ilusi. Dalam kamus Cambridge difinisi maksud tulisan Smoke and Mirrors adalah "Something that is described as smoke and mirrors is intended to make you believe that something is being done or is true, when it is no". Sesuatu yang dimaksudkan untuk membuat anda percaya bahwa ada sesuatu yang sedang dilakukan atau benar telah dilakukan, padahal tidak.

  Mungkin dalam bahasa lebih sederhana  smoke and mirrors adalah melebih-lebihkan fakta. Meski ngambang, artikel ini jelas menuding presiden Jokowi dengan buruk. Betapa tidak, wartawan senior yang memiliki istri WNI ini membuat pernyataan-pernyataan resmi yang sifatnya ngambang, tidak jelas dan dihiasi sedemikian rupa. Mulai dari persoalan daging, sumberdaya alam hingga permasalahan infrastruktur.

  Menurutnya semua itu, dilakukan dalam rangka menaikkan citra positifnya menuju hari Pilpres 2019 yang sudah semakin dekat. Isi tulisan McBeth sendiri sebenarnya biasa saja dan tidak ada yang cukup baru. Mulai dari isu soal Freeport McBeth menyebut pemerintahan Jokowi melebih-lebihkan keberhasilan dalam divestasi saham sebesar 51 persen. Namun bagaimana cara pemerintah membayarnya dan bagaimana penguasaan manajemennya tidak jelas. Justru yang terjadi pemerintah kembali mengizinkan Freeport mengekspor konsentrat tembaga.

  Selain itu, dirinya menyoroti soal swasembada pangan yang dijanjikan pada saat kampanye dulu, Jokowi menyatakan akan menghentikan berbagai impor komoditi pangan termasuk daging dan beras. Namun, janji itu sulit dilakukan dan nyaris tak berkutik oleh jeritan-jeritan rakyatnya. Ya, kalau benar pemerintahan Jokowi berhasil melakukan swasembada pangan, hal itu merupakan capaian yang luar biasa. Swasembada pangan berhasil dicapai saat Indonesia dipimpin Soeharto pada tahun 1980-an. Setelah itu para presiden penggantinya, tidak ada yang berhasil melakukannya.

  Hingga saat ini atikel ini masih menjadi kehebohan masyarakat khususnya lawan politik dan sejumlah jurnalis media nasional. Kata idiom yang digunakan, dan reputasi pribadinya sebagai wartawan yang sangat menguasai peta politik Indonesia jadi satu alasan tulisan ini jadi viral. Tuduhan penggunaan idiom smoke and mirrors dan hide hard truths. Sebuah kosa kata yang tidak main-main karena mengandung tuduhan bahwa Presiden Jokowi mencoba menyembunyikan sebuah kebenaran.
  Bahkan di akhir tulisannya Mcbeth meramalkan, cepat atau lambat kebenaran itu akan terungkap dan masyarakat akan menyadarinya. Dia menggunakan kata "Sooner or later, the smoke and the mirrors will inevitably lift to reveal hard realities". Setelah membaca artikel ini, saya langsung melihat kanan dan kiri, terutama di media sosial. Benar saja, tulisan suami mantan wartawan senior Tempo Yuli Ismartono ini jadi senjata lawan politik Jokowi. Meski tulisan ngambang, mereka fikir artikel ini adalah baik. Ya, jika melihat pengalaman wartawan yang saat ini menghabiskan masa tuanya di Bali adalah wartawan Asia yang sudah berpengalaman.

 Tapi, itu bukan salah satu syarat untuk percaya secara penuh. Faktanya bukan hanya saat ini McBeth mengkritik pemimpin Indonesia, di era SBYpun dirinya pernah menulis sebuah buku berjudul The Loner: President Yudhoyono's Decade of Trial and Indecision. Sebuah buku yang menulis dengan sangat lengkap masa kepemimpinan SBY selama dua periode sebagai presiden keenam RI dan presiden pertama yang terpilih secara demokratis.

  Demagogi jurnalis asing bisa merusak atau memperbaiki, tergantung masyarakatnya. Yang saya khawatirkan ini adalah cara halus untuk mengadu domba antara dua kelompok masyarakat yang sedang tegang-tegangnya. Mereka lupa, akibat isu-isu hoax yang bersifat hasut akan meruntuhkan sebuah negara. Lihat saja Irak dan negara timur tengah lainnya yang dimainkan oleh isu orang asing.
 Pada akhirnya, siapapun yang memimpin bangsa ini hasilnya akan sama saja, kaum yang menolak dan tidak setuju akan selalu hadir berteriak lantang. Saya mendukung pemerintah, tapi bukan kelompok Pak Jokowi ataupun lawan politiknya. Yang saya ingin, rakyat tidak perlu saling bermusuhan cukup para wakil dan pemimpinnya, bukan sebaliknya. (*)

Rabu, 10 Agustus 2016

Akar Gerakan Radikalisme




  'Pohon bisa tumbuh subur hingga berbuah sisebabkan oleh akar yang kuat menancap ditanah' pepatah itulah yang cocok untuk kondisi gerakan radikalisme yang terjadi di negri ini. Penuntasan gerakan radikal tak berujung, membuat sejumlah masyarakat bertanya-tanya sampai kapan negara ini terbebas dari gerakan radikal yang membahayakan keselamatan warganya. Tentunya, pertanyaan seperti itu akan terus terdengar hingga setiap masa, bukan hanya bangsa ini, tapi semua bangsa yang merasa gerakan radikal itu ada. Sepatutnya kita menyadari masalah gerakan radikal terjadi bukan kebetulan, ataupun pengalihan isu belaka. Nyatanya gerakan-gerakan radikal itu tetap akan ada selama akar gerakan tak disikapi pemerintah dengan bijak. Ada beberapa akar yang membuat pohon gerakan radikalisme tumbuh subur di negara ini, mulai dari ekonomi, media sosial, ketidakpercayaan pada pemerintah, sakit hati pada penegak hukum dan kondisi politik yang tidak stabil. Akar pertama Mulai dari ekonomi rendah bisa menjadikan salah satu faktor masyarakat ikut bergabung dengan gerakan radikalisme, ketidakpercayaan adanya pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat disebut-sebut jadi bahasan serius kelompok gerakan radikal. Tak sedikit para pemuda penganguran ikut bergabung dengan gerakan radikalisme, alasanya masuk akal. Adanya jaminan hidup lanyak jadi hal utama, sulitnya mencari pekerjaan bisa jadi faktor. Seperti kasus bom Thamrin pada awal tahun 2016 lalu, terkuak para pemuda pengangguran jadi rekrutan utama para kelompok radikal sudah rahasia umum, banyak pengantin (pelaku teror) yang usianya cukup muda merupakan bukti bahwa faktor ekonomi salah satu akar penting dalam tumbuh kembangnya gerakan radikalisme. Tentunya fenomena ini sudah pantas disikapi pemerintah untuk segera menciptakan obat pembunuh salah satu 'akar' gerakan terorisme. Dan ini sebetulnya ini keharusan pemerintah untuk bergerak dari pendekatan sektor ekonomi.
MESIR : Sebuah bukti sejarah bahwa tuhan itu ada

Media Sosial

Saat ini, dalam hitungan detik masyarakat bisa mengetahui kejadian demi kejadian dibelahan bumi manapun dengan bantuan media sosial. Bagi sebuah bangsa yang berkembang ini tentunya sebuah kemajuan yang sangat baik, namun jangan salah jika media sosial bisa menjadi akar tumbuh paling subur untuk tumbuh kembangnya faham radikalisme bangsa ini. Tak sedikit, kelompok berfaham gerakan radikal mempergunakan media sosial sebagai ladang untuk mempengaruhi masyarakat. Bahkan beberapa kelompok sengaja menciptakan media sosial untuk menyebarkan faham dalam bentuk tulisan, gambar dan video. Perlu diketahui, Media sosial sama tak kalah berbahaya, pasalnya media sosial bisa menjadi salah satu 'akar' sangat kuat pada tumbuh kembangnya gerakan radikalisme. Saat ini, tinggal bagaimana pemerintah bertindak tegas dengan memberikan ramuan mematikan agar supaya masalah gerakan radikalisme setidaknya tak lagi jadi perhatian publik, kepercayaan terhadap pemerintah akan memberikan keamanan bagi warganya berada diangka paling tinggi.

Ketidakpercayaan pada pemerintah

Gerakan radikal yang belatar belakang mosi tidak percaya pada pemerintah sudah lama menjadi akar kuat untuk menumbuhkan gerakan radikal dibelahan dunia, maupun Indonesia. Kelompok OPM di Papua dan GAM di Aceh misalnya, mereka menciptakan sebuah gerakan radikal dengan tujuan dengan latar belakang keinginan untuk mengelola wilayahnya sendiri. Perhatian pemerintah kepada masyarakat dianggap kelompok radikal kurang dan bahkan tidak ada. Pada kasus gerakan Radikal faktor kepercayaan pada pemerintah masih jadi penyebab tinggi terjadi. Jika dirunut kebelakang kemunculan Santoso Cs berawal dari sebuah konflik antar agama di Poso yang berujung tanpa penyelesaian oleh pemerintah. Rasa kekecewaan direalisasikan dalam bentuk gerakan radikal untuk mencari pembenaran. Sekarang, tinggal bagaimana pemerintah sigap dalam menangani kasus per kasus yang menyangkut golongan, ras dan suku. Jika tidak ditangani dengan benar, tak pelak akan muncul kembali gerakan radikal yang lebih banyak.

Sakit hati pada Penegak hukum

Jika manusia yang sudah sakit hati, tentunya rasa yang muncul adalah sebuah kebencian murni tanpa melihat siapa dan apa. Jika sudah benci tak memandang apapun yang ada hanya kebencian abadi. Kasus sakit hati kepada aparat penegak hukum menjadi akar utama terjadi gerakan radikalisme tumbuh kembang dan sesekali meledak ditengah-tengah masyarakat. Dalam masalah ini, sakit hati bukan karena ditolak namun lebih kepada penanganan kasus yang dilakukan penegak hukum tidak sesuai harapan, tentunya ini sangat perlu dilakukan pembahasan bagi pemerintah agar menciptakan sebuah tatanan hukum yang ideal bagi masyakatnya. Barisan sakit hati lebih bahaya dari sekelompok pasukan terlatih, karena rasa kebencian bisa mengalahkan segalanya jika sudah memuncak. Hanya pendekatan tepat oleh pemerintah yang bisa meredam kebencian ini dengan seksama. Perlu diketahui, jika salah satu anggota radikal meninggal dengan cara yang tak wajar tanpa melalui proses hukum itu bisa menambah tenaga lebih bagi anggota kelompok lain untuk melakukan perlawanan yang lebih hebat. Banyangkan saja jika sebuah anggota keluarga gerakan radikal meninggal dengan tuduhan yang belum ada bukti bisa menjadi satu alasan untuk membalasnya. Jika pemerintah ingin serius membasmi akar gerakan radikal tentunya harus bisa memberikan kepuasan hukum bagi rakyatnya.

Kondisi politik yang tak stabil

Situasi politik yang tidak stabil disebuah negara bisa menjadi akar adanya gerakan radikalisme. Negara-negara yang politiknya kacau seperti di timur tengah dan eropa sangat sering terjadi adanya teror yang dilakukan oleh kelompok radikalisme. Tujuannya jelas, mereka mencari pembenaran dengan melakukan aksi-aksi anarkis agar pemerintah yang berkuasa bisa lengser dan berganti dengan pimpinan yang diharapkan oleh para kelompok gerakan radikal. Kondisi yang carut marut bisa mamicu terjadinya gerakan radikalisme dengan latar belakang tidak percaya lagi pada sebuah janji-janji politik yang dikeluarkan pemerintah. Belum lagi beberapa kebijakan-kebijakan yang tidak tepat sasaran bisa membuat masyarakat tak lagi percaya pada pemerintah. Untuk menangani masalah ini, tentunya pemerintah harus secara bijak memberikan femahaman yang baik kepada masyakat.

Penuntasan gerakan radikalisme memang tidak akan bisa berujung, akan ada generasi-generasi baru yang muncul untuk menggantikan kelompok yang lama. Itu bisa terjadi ketika akar-akar untuk menumbuhkan gerakan radikalisme semakin rindang tidak disikapi oleh pemerintah dengan baik. Tidak akan ada buah bahkan dahan yang rindang jika sebuah akarnya mati perlahan. Bukan hanya penumpasan raga (orangnya) para kelompok radikalisme saja yang perlu dilawan. Namun jiwa, pemikiran serta idiologi adalah hal yang utama bagi pemerintah untuk mempersempit tumbuhnya akar gerakan radikalisme. Semakin dilawan orangnya dengan cara kekerasan, maka akan kembali tumbuh gerakan radikalisme baru. Itu terjadi karena, saat ini setiap perlawanan dilakukan beberapa kelompok bahkan kelompok yang tadinya kurang mendukung gerakan radikal akan kembali mendukung dengan milihat kejadian ketidakadilan lewat media ataupun media sosial. Cepatnya informasi saat ini bisa menimbulkan orang tergerak untuk melakukan hal yang sama. Tak jarang ada beberapa teroris yang berani melakukan teror akibat melihat dari tindakan sebelumnya dari media massa. Beberapa akar terjadinya gerakan radikalisme saat ini memang masih tidak begitu diperhatikan secara baik, padahal jika pemerintah sigap untuk mematikan akar-akar dari sebuah pohon gerakan radikalisme dengan perlahan para pelaku teror dengan sendirinya akan hilang. Kita bisa mencontoh negara-negara maju dalam menyikapi sebuah teror dengan begitu seksama, tak hanya memberantas dipermukaan tapi dimulai dari dasar masalah. Jika penuntasan masalah gerakan radikalisme hanya mematikan sebuah pohon saja tanpa ke akarnya, suatu saat nanti akan kembali tumbuh tunas-tunas baru. Dan jika sebuah akarnya sudah lemah, kita tak harus lagi menebang pohon, lama kelamaan pohon tersebut akan tumbang sendiri jika cengkraman akarnya lemah. (*)

Asik Sendiri Tanpa Peduli


ASIK : Inilah Keasikan China
Saat pertama masuk museum ini, pikiran saya langsung lupa pekerjaan, lupa kalau situasi keuangan yang menipis tapi gak lupa saya siapa sih. Dengan lukisan-lukisan dengan berbagai tema yang belatar belakang daerah didunia membuat saya asik sendiri dan tak pernah peduli orang yang ngantri.
 Rasanya satu jepretan dilokasi yang sama tak cukup, perlu beberapa fose untuk mendapatkan fose yang bagus. Makanya, saking menjiwai saya tak pernah peduli dengan orang yang mengantri dibelakang untuk menunggu giliran foto. Meski, begitu saya sadar bahwa yang lain juga bayar.
 Meski, bermodal kamera yang sedikit usang, tak membuat diriku ini gentar untuk berkreasi mencari lokasi lukisan yang pas dengan hatiku. Ya mesti satu persatu saya sambangi, tetap saja saya mencari lukisan yang paling indah menurutku. Dan pada ahirnya diriku lelah sendiri, ketika melihat badan sudah lusuh dan bau kebanyakan berfose tak jelas.
 Piknik, kali ini membuat saya tak peduli diri sendiri yang lelah menuruti hati dan keinginan untuk berfose. Jika kalian ingin asik sendiri makan ikutilah jejak saya ini.

Berkhayal Di Museum Seni 3D Chiang Mai

PENYELAM : Saya merasakan sensasi yang indah seperti didalam laut
Awalnya saya berpiknik untuk sekedar melepas penat dari rutinitas pekerjaan. Namun, cerita piknik kali ini sedikit membawa khayalan tingkat tinggi. Betapa tidak, piknik kali ini saya mengunjungi museum seni 3D Art in Paradise yang terletak di No. 78/34 Moo 9 Pattaya 2nd Road, Nong Prue, Banglamung, Chonburi Chiang Mai Thailand yang membuat saya berkhayal untuk menjadi petualang dunia.
  Konsep Museum yang diciptakan oleh seniman asal Korea menghadirkan suasana seperti nyata ketika foto mulai difungsikan. Dengan tema mulai dari Arts, ocean life, wild life, jungle, egyptian, western, dinosaurs hingga thai’s sceneries membawa saya terlupa dengan dunia kerja yang sedikit penat.
  Dengan biaya masuk 500 bath untuk orang dewasa atau sekitar Rp189 ribu membuat saya merasa puas dengan puluhan bahkan ratusan fose ketika berada didalam museum. Sangat sebanding memang dengan sebuah karya lukisan 3D didingding tersebut. Museum yang memiliki empat lantai dengan 10 ruangan atau lebih membuat hati dan tangan tak berhenti untuk mengabadikan moment ini.
  Namun, ada yang perlu diperhatikan oleh para pengunjung. Ya, kalau hasil fotonya ingin bagus, para pengunjung harus berfose dengan sesuai obyek yang tepat, agar hasil fotonya bagus dan terlihat riil. Kedua para pengunjung harus sabar menunggu gantian berfose, soalnya museum ini selalu ramai dikunjungi oleh turis asing ataupun lokal.
  Untuk yang hobi berfoto ria sih pasti ketagihan, namun bagi yang tidak memiliki foto yang bagus juga sebenarnya sih tak terlalu berpengaruh. Soalnya, tema-tema lukisannya sudah membantu. Dan kalau boleh saya sarankan, pergi ke museum ini seharusnya tidak sendiri. Kenapa, karena akan lebih bagus berfosenya bergantian, kalau tidak hasilnya akan tidak maksimal.
  So, jika kalian berencana untuk mengikuti jejak saya (orangnya jangan diikuti) maka siapkan teman yang mendampingi plus uang saku yang lumayan. Disini, kalian akan berkhayal menjadi petualang dunia yang mengijakan kaki disetiap benua.

Senin, 09 November 2015

Jika mentari Sama, Seribu Milpun masih kurang

Indahnya Indonesia
Keheningan angin ditengah rimba sunyi, saat aku berjalan sendiri sebagai seorang kelana. Kudambakan jiwaku padamu oh tuhanku, aku berdoa sepenuh hati, semoga tercapai tujuanku. Ku berjuang penuh tekad demi hari esok, dingin hening dan sepi. Didalam daun berbisik bahwa tuhan selalu bersama dalam setiap napas kehidupan.
 Bulan merah yang tertutup awan, habis hujan langit akan cerah. Bukit yang penuh cemara yang tegak sendiri diterpa badai dan jatuh dibumi. Bulan merah dilangit yang biru kelabu. Berhembus badai dihati tenang dan indah, aku yakin badai akan reda dan langit akan cerah seperti sebelumnya.
 Kehidupan tenang akan datang ketika hati dan perasaan indah hadir. Melati dari bukit pernah aku terawang akan ketenangan, ku ingat dihari itu aku diberikan seyum kedamaian. Hati yang teduh dalam dekapan aku biarkan perasaan datang, memang mentari kelak akan tenggelam dan dingin mencekam, namun aku berharap bintang datang memberi sinar kehidupan yang damai.
 Mungkin itu akan tinggal kenangan, namun itu tidak mungkin bisa selama deyut nadi terpompa ditubuh ini. Nada yang terbening ada dalam alam, cerita tetang alam adalah cerita kerinduan. Nada ini adalah nada yang terbening untukmu (pembaca setia tulisan ini) awan dan kabut yang berwarna kelabu terus bernyanyi. Kisah laut dan langit yang biru adalah alam yang tak bisa dirubah seperti takdirku kedepan. Gunung Gede Pangrango adalah gunung yang selama ini menjadi sumber kehidupan manusia sekitarnya. Tuhan ini aku berharap merenungkan hidup yang terisi, sedikit niat baik bagi sesama yang dalam kegelapan.teguhkan hati kami yang memiliki niat tulus dan juga saudara kami yang dalam kegelapan tabahkanlah dan teguhkan imannya. Tabahkan hatimu tuhan selalu denganmu, sinar terang kan datang bagi orang yang tabah dan itu pasti.
 Tabahkanlah, hati para pendosa maka akan ada sinar terang akan datang jika harapan terpancar murni. Ketika pohon flamboyan terhampar maka kenangan itu nyata. Senja itu flamboyan berguguran seorang dara memandang terpukau dan satu-satu daunnya berjatuhan ketika dilihatnya daunnya bertebaran. Flamboyan berguguran berjatuhan dan berserakan, sejak itu sang dara berharapan esok lusa bersemi kembali. Memang bunga flamboyan diraihnya ketika flamboyan berjatuhan berserakan.
 Telah kekatakan tempat bernaung adalah bumi yang indah nan elok. Tanah padjadjaran adalah tanah sunda yang sama pentingnya di Negeri ini. Mentari menyala disini, disini didalam hatiku bergemuruh apinya didalam urat darahku. Meski tembok yang tinggi mengurungku yang berapis pagar duri tak akan sanggup menghalangiku bernyala didalam hatiku. Hari ini adalah hari milik kita semua, dan juga esok masih terbentang dan esok masih dan masih menyala. Mereka sengsara, menjerit dan memukau hingga aku tidak bisa tidur.
 Sejuta kabut yang hadir dalam malam memaksa aku bersembuyi dibalik tembok. Kabut turun perlahan merayapi setiap lorong bumi yang mengoreskan kesan suram padaku. Kesibak tirai hatiku dan kubuka pintu jiwaku dan kuterjuni kabut yang ada dengan berbekal hati yang menyala dan membara.
 Alam yang indah dibaluti kasih cerita yang kau katakan tentang embun yang turun dikaki pegunungan. Lembutnya sayang cerita yang dibisikan dan tentang mawar yang biru tersimpan rapi bersama daun yang enggan berguguran jika membuat sedih. Nyanyian langit yang hening namun terasa akan menjadi saksi bisu setiap perbuatan manusia di Dunia.
 Kita akan kecil dihadapan para pencipta. Banyang-banyang senja merayap satu-satu yang menjemput bintang-bintang, lama ku tercenung ketika air mata meleleh dihatiku. Entah kapan pritiwa begini ketika bintang-bintang berbisik yang bernyanyi dihati pada malam senyap begini. Ini kisah tetang bunga yang terbening dari yang bening saat musim kering. Seribu mil lebih sedepa, sungai lamandau masuk kesungai bengaris Kalimantan itu jauh, namun mataharinya masih sama. Diam-diam ku terseyum dimalam menuju pagi bahwa hidup akan hidup jika mentari sama, yang berbeda adalah jarak yang memisahkan.

Sabtu, 07 November 2015

Seperti Pelangi Setia menunggu Hujan Reda

Gondola (Perahu asal Italia)

Nanti malam akan jerat rembulan yang tertutup awan, Lelah memang adanya ketika sepi datang. Bersandiwara di esok hari dan hari ini tak ada guna. Menyisakan duri rindu, menyisakan perih dan sunyi dalam setiap kucuran air yang turun. Diri dan hati tak bisa berkata satu dan dua ataupun tiga, yang ada hanyalah buaian rindu 'Kohati' yang seakan tak pernah sepi.
 Aku bisa diracun di Udara, aku bisa tenggelam dilautan dan aku bisa terbunuh ditrotoar jalan. Tapi aku tak pernah mati dan tak akan berhenti untuk setiap doa. Aku bisa dibuai oleh puisi lain, aku bisa dirayu oleh pujangga lain dan aku bisa terjerat oleh kata-kata, tapi tak bisa semua itu ada jika kenyakinan bersama langit dan bumi saling mengisi tetap berputar.
 Aneh, aneh dan aneh aku saat ini. Saat ini Pukul 17,00 WIB Sabtu (01/11) aku melihat butiran air yang membawa kehidupan dibumi datang, saat ini aku melihat air yang membawa sampah manusia ke laut dan saat ini aku tumbuhan bergembira setelah lama merasakan kekeringan. Lantunan lagu dan syair islam bergema seakan tak sadarkan jiwa yang haus akan nurani murni tanpa konsolidasi fikiran lain.
 Hijau, putih, hitam dan abu-abu warna mata binar yang sesaat dan hilang. Bantal, selimut dan udara menjadi cahaya yang membuka jendela dunia lewat aksara ini. Karena setiap kata yang indah membuka jendela dunia yang teralur rapih disetiap kalimat, foto-foto diri yang terpajang dari awalku tau kehidupan sebenarnya hingga kini terpangpang disetiap sudut ruangan, kursi dan meja menjadi teman kopi khas toraja yang siap dirasakan pahit dan manisnya.
 Lantunan Pandai Besi (grup musik tanah jawa masa kini bisa juga disebut efek rumah kaca) jadi buaian tersendiri ketika hujan datang. Yang sedih dan letih akan hilang jika berada ditengah hujan, tanah merah yang sebelumnya kering dimarahi hujan seakan aku tak perlu lagi mencari sumber mata air. Dentuman piano yang dipadukan biola seakan indah menemani hujan yang dirindukan oleh tanah merah.
 Kasur putih memohon datang untuk sekedar menjalani tugasnya. Para pekerja, pemalas, penipu, parusak dan penyelamat menepi ketika hujan turun. Nikmatilah saja keindahan ini, segala deyutnya yang merobek sepi, kelesuan ini jangan lekas pergi aku menyelami sampai lemah. Tak kusangka dan kuduga setelah aku sholat di Masjid kecilku dulu ketika mengetahui ajaran sebelum pergi, menjadi awal pertemuan yang sudah lama ku khayalkan.
Sungai adalah air, tapi air bukan sungai
Hujan dan hujan akan terus datang ketika sudah musimnya. Terima kasih kepada yang ada dibalik awan hitam, yang megetahui sisi gelap kehidupan. Seperti pelangi akan setia menunggu hujan reda, Selalu ada yang bernyanyi, semoga ada yang menemani saat menangis sepi.
 Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember, Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember dan Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember. Pada ahirnya hujan akan berhenti dan ketika tumbuhan sudah cukup untuk membesarkan dahan yang menghasikan buah.  

Rabu, 04 November 2015

Asa Angin Mamiri Di Losari

Losari Tak Lagi Sepi
Pukul 22,00 WIB Sabtu malam 25 Oktober 2015 waktu dimana saya menuju daerah yang terkenal angin mamiri Makassar. Waktu itu, saya menjemput teman saya Dewi Wulansari (kanaya) yang akan berangkat bersama. Sempat muncul perdebatan diantara kami soal waktu pemberangkatan, saya mengira pukul 10,00 WIB terlalu cepat untuk berangkat. Namun bagi wanita yang berkaca mata lebih tau bahwa jalanan waktu itu pasti macet.
 Benar saja, kami berangkat dari Sukabumi menuju Bogor memakan waktu hingga empat jam lebih atau tepatnya Pukul 01,00 WIB baru sampai di Bogor akibat macet pengecoran jalan, padahal kalau normal cuma dua jam saja. Setelah kami sampai di Terminal Bogor kami tak langsung naik bus, kami memilih makan dulu di warteg emperan dengan menu apa adanya. Sekira cukup baru kami mendatangi terminal Damri jurusan Bogor-Bandara Soekarno Hatta, meski waktu ini kami sempat kebingungan mencari tiketnya dimana (Maklum aja kami ngantuk). Setelah kami bersiap-siap dengan mencuci muka untuk sedikit menyegarkan, ahirnya pada pukul 01,45 WIB kami berangkat ke bandara.
 Lama memang waktu yang ditempuh, meski begitu tidurpun tidak bisa karena posisi waktu itu kami duduk paling belakang. Setelah pegel-pegel ahirnya kami sampai di bandara pada Pukul 03,00 WIB. Awalnya siap ngaso dengan kopi dan rokok ditangan, belum habis semua panggilan pesawat sudah terdengar. Dan kamipun bergegas untuk melakukan chek in pesawat.
 Ada yang menarik waktu ini, dimana saya mengerjai teman saya (kanaya) dengan menyuruh menukarkan tiket ke loket yang bukan seharusnya. (Ditiket kami pakai pesawat Batik Air Line, nah dia nyodoring ke City Link kan jadi Repot hahah). Sebenarnya hal itu dilakukan agar kami khusunyaa saya bisa semangat lagi menuju angin mamiri makassar.
 Setelah kami melakukan chek in, ahirnya kami menunggu pesawat sambil menunggu teman-teman kami lainnya yang datang dari sejumlah peloksok untuk bareng terbang ke Makassar. Setelah kami menunggu cukup lama, satu persatu teman kami dari peloksok datang menghampiri dan kami mulai memperkenalkan diri satu sama lain.
 Waktu sholatpun datang saat kami menunggu pesawat, hingga kami melakukan sholat didalam bandara. Setelah usai tak lama kami langsung memasuki pesawat Batik Air line sekira pukul 05,00 WIB untuk menuju ke bandara Hasanudin Makassar. Dengan perjalanan yang kami tempuh sekitar dua jam ahinya kami tiba di Makassar sekira pukul 07,00 WIB. Disana kami berkumpul dengan teman-teman lain sambil menunggu bus untuk mengantarkan kami ke hotel.
 Sekira 08,30 baru saya datang kelokasi hotel dimana saya akan tinggal selama lima hari. Setelah kami menunggu untuk mendapatkan kunci hotel, kami masuk kesebuah ruangan yang sudah disediakan. Singkat cerita kami mendapatkan kunci kamar masing-masing untuk istirahat setelah aktiitas kami sehari-hari.
 Baru ke hari kedua tepatnya hari Selasa (27/10) saya merasakan angin mamiri Makassar seperti apa. Sempat tertawa kecil sih, kirain angin mamiri itu gimana, ternyata hanya angin laut biasa namun bedanya angin mamiri hanya ada di Pantai Losari. Waktu itu saya berjalan dengan pejabat daerah kami yang kebetukan datang. Sempat, ragu aku merasakan indahnya pantai losari seperti apa. Karena waktu itu yang ada adalah panas dan sedikit gersang.
 Baru di hari ketiga tepatnya Rabu (28/10) saya merasakan pantai Losari yang sedikit indah, kenapa ? ya karena waktu itu aku mendatangi pantai Losari dengan berjalan kaki dari tempat hotel tempat kami menginap. Perlu perjuangan yang lebih untuk sampai disana, (untung saya suka jalan-jalan jauh dan naik gunung, jadi perjalanan segitu tak membuatku cape hahahah). Setelah tiba disana saya bersama ketiga teman saya dua wanita dan satu pria nongkrong di Pantai Losari dengan merasakan angin mamiri yang sudah kurasakan indahnya. Kami berempat sempat berfoto bersama, bercanda dan bergembira bersama.
 Meski waktu itu saya ingin lama disana, namun salah seorang temanku mengajak pulang. Nyesal memang, aku buru-buru diaajak pulang, tapi adanya waktu jua memisahkan saya dengan suasana angin mamiri. Sejak waktu itu, saya tidak lagi merasakan angin mamiri diwaktu sore sampai saya pulang ke daerah kami Sukabumi. Asa memang ada untuk bisa kembali merasakan angin itu, semoga waktu yang akan datang saya bisa merasakan lagi Angin Mamiri di Pantai Losari.