| MESIR : Sebuah bukti sejarah bahwa tuhan itu ada |
Media Sosial
Saat ini, dalam hitungan detik masyarakat bisa mengetahui kejadian demi kejadian dibelahan bumi manapun dengan bantuan media sosial. Bagi sebuah bangsa yang berkembang ini tentunya sebuah kemajuan yang sangat baik, namun jangan salah jika media sosial bisa menjadi akar tumbuh paling subur untuk tumbuh kembangnya faham radikalisme bangsa ini. Tak sedikit, kelompok berfaham gerakan radikal mempergunakan media sosial sebagai ladang untuk mempengaruhi masyarakat. Bahkan beberapa kelompok sengaja menciptakan media sosial untuk menyebarkan faham dalam bentuk tulisan, gambar dan video. Perlu diketahui, Media sosial sama tak kalah berbahaya, pasalnya media sosial bisa menjadi salah satu 'akar' sangat kuat pada tumbuh kembangnya gerakan radikalisme. Saat ini, tinggal bagaimana pemerintah bertindak tegas dengan memberikan ramuan mematikan agar supaya masalah gerakan radikalisme setidaknya tak lagi jadi perhatian publik, kepercayaan terhadap pemerintah akan memberikan keamanan bagi warganya berada diangka paling tinggi.
Ketidakpercayaan pada pemerintah
Gerakan radikal yang belatar belakang mosi tidak percaya pada pemerintah sudah lama menjadi akar kuat untuk menumbuhkan gerakan radikal dibelahan dunia, maupun Indonesia. Kelompok OPM di Papua dan GAM di Aceh misalnya, mereka menciptakan sebuah gerakan radikal dengan tujuan dengan latar belakang keinginan untuk mengelola wilayahnya sendiri. Perhatian pemerintah kepada masyarakat dianggap kelompok radikal kurang dan bahkan tidak ada. Pada kasus gerakan Radikal faktor kepercayaan pada pemerintah masih jadi penyebab tinggi terjadi. Jika dirunut kebelakang kemunculan Santoso Cs berawal dari sebuah konflik antar agama di Poso yang berujung tanpa penyelesaian oleh pemerintah. Rasa kekecewaan direalisasikan dalam bentuk gerakan radikal untuk mencari pembenaran. Sekarang, tinggal bagaimana pemerintah sigap dalam menangani kasus per kasus yang menyangkut golongan, ras dan suku. Jika tidak ditangani dengan benar, tak pelak akan muncul kembali gerakan radikal yang lebih banyak.
Gerakan radikal yang belatar belakang mosi tidak percaya pada pemerintah sudah lama menjadi akar kuat untuk menumbuhkan gerakan radikal dibelahan dunia, maupun Indonesia. Kelompok OPM di Papua dan GAM di Aceh misalnya, mereka menciptakan sebuah gerakan radikal dengan tujuan dengan latar belakang keinginan untuk mengelola wilayahnya sendiri. Perhatian pemerintah kepada masyarakat dianggap kelompok radikal kurang dan bahkan tidak ada. Pada kasus gerakan Radikal faktor kepercayaan pada pemerintah masih jadi penyebab tinggi terjadi. Jika dirunut kebelakang kemunculan Santoso Cs berawal dari sebuah konflik antar agama di Poso yang berujung tanpa penyelesaian oleh pemerintah. Rasa kekecewaan direalisasikan dalam bentuk gerakan radikal untuk mencari pembenaran. Sekarang, tinggal bagaimana pemerintah sigap dalam menangani kasus per kasus yang menyangkut golongan, ras dan suku. Jika tidak ditangani dengan benar, tak pelak akan muncul kembali gerakan radikal yang lebih banyak.
Sakit hati pada Penegak hukum
Jika manusia yang sudah sakit hati, tentunya rasa yang muncul adalah sebuah kebencian murni tanpa melihat siapa dan apa. Jika sudah benci tak memandang apapun yang ada hanya kebencian abadi. Kasus sakit hati kepada aparat penegak hukum menjadi akar utama terjadi gerakan radikalisme tumbuh kembang dan sesekali meledak ditengah-tengah masyarakat. Dalam masalah ini, sakit hati bukan karena ditolak namun lebih kepada penanganan kasus yang dilakukan penegak hukum tidak sesuai harapan, tentunya ini sangat perlu dilakukan pembahasan bagi pemerintah agar menciptakan sebuah tatanan hukum yang ideal bagi masyakatnya. Barisan sakit hati lebih bahaya dari sekelompok pasukan terlatih, karena rasa kebencian bisa mengalahkan segalanya jika sudah memuncak. Hanya pendekatan tepat oleh pemerintah yang bisa meredam kebencian ini dengan seksama. Perlu diketahui, jika salah satu anggota radikal meninggal dengan cara yang tak wajar tanpa melalui proses hukum itu bisa menambah tenaga lebih bagi anggota kelompok lain untuk melakukan perlawanan yang lebih hebat. Banyangkan saja jika sebuah anggota keluarga gerakan radikal meninggal dengan tuduhan yang belum ada bukti bisa menjadi satu alasan untuk membalasnya. Jika pemerintah ingin serius membasmi akar gerakan radikal tentunya harus bisa memberikan kepuasan hukum bagi rakyatnya.
Kondisi politik yang tak stabil
Situasi politik yang tidak stabil disebuah negara bisa menjadi akar adanya gerakan radikalisme. Negara-negara yang politiknya kacau seperti di timur tengah dan eropa sangat sering terjadi adanya teror yang dilakukan oleh kelompok radikalisme. Tujuannya jelas, mereka mencari pembenaran dengan melakukan aksi-aksi anarkis agar pemerintah yang berkuasa bisa lengser dan berganti dengan pimpinan yang diharapkan oleh para kelompok gerakan radikal. Kondisi yang carut marut bisa mamicu terjadinya gerakan radikalisme dengan latar belakang tidak percaya lagi pada sebuah janji-janji politik yang dikeluarkan pemerintah. Belum lagi beberapa kebijakan-kebijakan yang tidak tepat sasaran bisa membuat masyarakat tak lagi percaya pada pemerintah. Untuk menangani masalah ini, tentunya pemerintah harus secara bijak memberikan femahaman yang baik kepada masyakat.
Penuntasan gerakan radikalisme memang tidak akan bisa berujung, akan ada generasi-generasi baru yang muncul untuk menggantikan kelompok yang lama. Itu bisa terjadi ketika akar-akar untuk menumbuhkan gerakan radikalisme semakin rindang tidak disikapi oleh pemerintah dengan baik. Tidak akan ada buah bahkan dahan yang rindang jika sebuah akarnya mati perlahan. Bukan hanya penumpasan raga (orangnya) para kelompok radikalisme saja yang perlu dilawan. Namun jiwa, pemikiran serta idiologi adalah hal yang utama bagi pemerintah untuk mempersempit tumbuhnya akar gerakan radikalisme. Semakin dilawan orangnya dengan cara kekerasan, maka akan kembali tumbuh gerakan radikalisme baru. Itu terjadi karena, saat ini setiap perlawanan dilakukan beberapa kelompok bahkan kelompok yang tadinya kurang mendukung gerakan radikal akan kembali mendukung dengan milihat kejadian ketidakadilan lewat media ataupun media sosial. Cepatnya informasi saat ini bisa menimbulkan orang tergerak untuk melakukan hal yang sama. Tak jarang ada beberapa teroris yang berani melakukan teror akibat melihat dari tindakan sebelumnya dari media massa. Beberapa akar terjadinya gerakan radikalisme saat ini memang masih tidak begitu diperhatikan secara baik, padahal jika pemerintah sigap untuk mematikan akar-akar dari sebuah pohon gerakan radikalisme dengan perlahan para pelaku teror dengan sendirinya akan hilang. Kita bisa mencontoh negara-negara maju dalam menyikapi sebuah teror dengan begitu seksama, tak hanya memberantas dipermukaan tapi dimulai dari dasar masalah. Jika penuntasan masalah gerakan radikalisme hanya mematikan sebuah pohon saja tanpa ke akarnya, suatu saat nanti akan kembali tumbuh tunas-tunas baru. Dan jika sebuah akarnya sudah lemah, kita tak harus lagi menebang pohon, lama kelamaan pohon tersebut akan tumbang sendiri jika cengkraman akarnya lemah. (*)